Ulang Tahun dan Lilinnya

Sekitar jam 15.00 pm waktu setempat, kami berkumpul dalam acara tasyakuran kelahiran putra teman yang genap 5 tahun. Rupa-rupanya kado buat si kecil dari undangan beragam. Dalam benak saya, mereka akan berusaha sekiranya hadiah itu akan disukai oleh si kecil.

Setelah doa bersama, kami juga bernyanyi bersama. We are indonesian community which is Indonesia commudity on the other hand. Liriknya jadi berbahasa Indonesia juga. ‘Selamat ulang tahun, kita rayakan…tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga, sekarang juga’.

Frase ‘selamat ulang tahun’ dan ‘happy birthday’ secara bahasa menunjukkan varietas bahasa yang berbeda tetapi merujuk pada referensi yang sama; mengingat kembali hari kelahiran tiap individu. Dengan begitu, bisa jadi perayaan semacam ini berlangsung diseluruh belahan dunia dengan segala bentuk dan versinya masing-masing.

Untuk negara-negara tertentu, perayaan semacam ini sudah menjadi tradisi. Di Australia misalnya, negara yang bahasa pertamanya adalah bahasa Inggris, mereka akan mengucapkan ‘happy birthday’ sekalian menyerahkan hadiah ulang tahun. Fairy Bread adalah makanan populer anak-anak saat perayaan hari jadi. Atau pesta barbeques bisa jadi pilihan jika cuacanya tidak terlalu dingin (winter). Bentuk perayaannya bisa beragam.

Untuk masyarakat yang hidupnya di negara berkembang (developing countries) seperti di Indonesia misalnya, upacara perayaan ini bisa ditemukan pada basis-basis atau kalangan-kalangan tertentu. Yang mudah dijumpai dan menjadi salah satu faktor adalah kelompok masyarakat yang secara ekonomi mendukung. Mengundang badut (clown) atau menyewa hall untuk terselenggaranya dan meriahnya perayaan tersebut bisa makan biaya yang tidak sedikit. Oleh karenanya, kalangan kelas ekonomi menengah ke bawah barangkali akan lebih memilih untuk mementingkan kebutuhan mendasar; sembako dan biaya pendidikan.

Dari perspektif budaya, perayaan semacam ini sudah masuk kategori ‘big culture’ di negara-negara maju tetapi belum sepenuhnya diyakini tradisi semacam itu sudah menjadi bagian hidup yang dianut sebagai nilai oleh kelompok yang masyarakatnya masih berada di bawah garis kemiskinan.

Akan tetapi pada masyarakat global dimana garis-garis geografis bukan lagi penghalang, pertukaran budaya (cross-culture) sangat mungkin terjadi. Individu-individu atau golongan masyarakat akan mengadopsi cara pandang, berprilaku atau pola pikir pada masyarakat diluar komunitasnya. Assimilasi budaya itu akan membentuk pola pandang baru terhadap cara hidup dan kehidupan individu atau kelompok. Disinilah akan ditemui adanya perubahan-perubahan nilai dan kepercayaan komunitas serta dapat dikaji akan perubahan-perubahan yang terjadi dari masa ke masa.

Dalam kontek keindonesiaan, seperti perayaan ulang tahun tersebut, cendrung semakin mudah ditemui. Jika ada yang merasa selama hidupnya hari kelahiran itu belum pernah dirayakan dalam kebersamaan? Kemungkinan peristiwa ini tidak mungkin tidak terjadi. Lalu saya pribadi berusaha mengingatnya dan, rasanya sampai saat ini saya belum pernah meniup lilin ulang tahun kecuali lilin saat dinyalakan waktu lampu sedang padam.

About Halili

Indonesian student of Master of Language Studies at Flinders University, South Australia.
This entry was posted in Culture. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s