Cultural Shock dan Obatnya

Beda kolam, beda ikan (different pond, different fish). Pepatah klasik ini barangkali masih dapat mewakili kondisi nyata atas proses adaptasi yang dibutuhkan tiap individu. Ada tipikal seseorang yang mudah menyesuaikan atau bahkan membangun pertalian dengan orang-orang baru atau lingkungan sekitarnya. Begitu pula sebaliknya dimana penyesuaian bukanlah sebuah jalan yang mudah dilewati.

Diakui perkembangan tekhnologi terus meningkat yang menawakan kemudahan hidup untuk semua urusan. Jarak dan waktu, terasa begitu dekat dan cepat. Hampir semua kebutuhan terbungkus rapi dalam fasilitas apa yang kita sebut ‘kecanggihan’. Namun, ada sisi-sisi yang sejatinya belum sepenuhnya tergantikan olehnya. Kenangan masa kecil, tempat dan jenis permainan, beserta memoir-memoir yang tertanam, tumbuh dan membesarkan diri di tanah ibu pertiwi, kini datang pada waktu yang dirahasiakan.

Itulah sepenggal rasa yang kualami saat tiga bulan pertama berada di negeri Kangguru. Rindu kampung halaman beserta orang-orangnya. Bisa memiliki hubungan yang dekat dengan tetangga sebelah, bisa bercengkrama meski dengan segelas kopi dengan karib sahabat, barangkali bagi saya sebuah harapan budaya (cultural expectation) yang terlalu tinggi di sini. Dengan kata lain, kebiasaan hidup orang lain tidak selalu bisa disesuaikan dengan gaya hidup kita sebelumnya.

Cultural shock mungkin bukanlah istilah asing secara pribadi. Pelajaran yang secara khusus diberikan dibangku kuliah sekitar semester ketiga (tepatnya semester berapa saya sudah tidak ingat lagi). Secara orang yang mengalami, teori tidak selalu sama dengan kenyataan, barangkali itu memang benar adanya. Jadi, waktu kita duduk di kelas, mendengarkan dosen memberi kuliah tentang cross-cultural understanding, sebuah pengalaman awal untuk dilanjutkan dikemudian hari.

Yang saya temui misalnya, kebiasaan menggunakan direct communication style, itu nyata di Oz. Karena filosofinya orang disini begitu menghargai waktu, jadi umumnya mereka tidak ingin disita waktunya untuk mendengarkan informasi yang dianggap kurang penting. Benar-benar memahami inti dari kehendak kita, akan membantu dapat berkomunikasi secara efisien hampir dengan semua orang.

Salah satu perbedaan yang budaya (opposite polarisation) antara kita Indonesia dan Oz dalam berinteraksi adalah direct and indirect communication style. Indonesia, termasuk China dan Jepang memiliki latar belakang yang berbeda dengan Oz. Kita, Indonesia, memiliki kecendrungan untuk tidak langsung masuk pada pokok pembicaraan dalam berinteraksi. Jadi kita masih memiliki kalimat pembuka yang akan mengantarkan pada pokok bahasan berikutnya. Termasuk menjawab pertanyaan ‘ya’ dan ‘tidak’ sekalipun, kita bisa temui dalam obrolan sehari-hari, kita sering menghindarinya.

Dalam kajian cross-cultural pragmatics, tipikal komunikasi yang tak langsung, akan sering ada penggunaan hedging atau hesitation dalam perbincangan. ’em, gimana ya?’ adalah salah satu contoh ungkapan dimana pembicara ‘enggan’ menyatakan secara langsung apa yang dipikirkan atau dirasakan.

Perlu dipahami barangkali, kalau cara bertindak atau bertutur itu, baik yang direct ataupun indirect style, tidak bisa dipisahkan dari nilai-nilai atau norma-norma yang berlaku di masyarakat tersebut. Kesopanan bisa menjadi salah satu aspek mengapa ‘vulgar’ dalam menyatakan pikiran atau perasaan cendrung dihindari. Atau ‘rasa malu’ juga bisa jadi penyebabnya. Dalam hal ini, tentu saja kesuksesan berkomunikasi juga ditentukan oleh seberapa besar pelaku dapat menafsirkan dan memahami pesan tersembunyi (silent messages) dari pembicara atau pendengar pada waktu yang bersamaan.

Karena perbedaan itulah, sering kali komunikasi yang kurang atau tidak efektif bukan hal yang mustahil untuk terjadi. ‘Don`t go around the bush’ atau ‘say what you wanna say’ adalah semisal ungkapan untuk memberi penjelasan tidak langsung tentang direct-communication style adalah cara yang dipakai oleh masyarakat Aussie secara umum.

Seperti yang saya tuliskan di awal-awal paragraf, hal ini tentu saja tidak semudah dari perkiraan. Karena nilai-nilai yang terkandung didalamnya, juga mempengaruhi terhadap pola pikir sebenarnya. Pola pikir yang terbangun dengan sistem indirect setelah sekian lamanya, hasilnya bisa kita lihat kalau kita hanya baru beberapa bulan saja tinggal di lingkungan dan prilaku yang sepenuhnya baru.

Perbedaan cara berkomunikasi ini adalah contoh dimana kenyataan itu tidak selalu sejalan dengan pengharapan saya. Belum lagi sistem pendidikan dan layanan perpustakaan yang serba on-line adalah bagian-bagian kecil dimana saya dapat mengambil pelajaran darinya.

Dari keragaman itu, ada dampak emosional dan psikis juga yang ditimbulkan sebenarnya. Rindu kampung halaman pastinya. Saya akui keadaan itu terkadang membelah konsentrasi belajar. Itulah yang saya maksudkan, secanggih alat komunikasipun tidak sepenuhnya dapat menggantikannya. Mendengar suara Emma` atau saudara-saudara, rasanya tetap saja ada yang tertinggal; pertalian emosional.

Tapi ada satu hal yang menurut saya ajaib adalah seolah-olah pertalian itu tersambungkan. Rupanya berbicara bahasa Ibu (Bahasa Madura) di negara berbahasa Inggris ini bersama karib (Najib dan Imam) rupanya dapat mendekatkanku pada mereka. Seolah terbangun rumah bersama keluarga yang meski sesaat menghilangkan rasa asing ditengah-tengah komunitas Barat.

About Halili

Indonesian student of Master of Language Studies at Flinders University, South Australia.
This entry was posted in Beranda. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s