Saya, Dia, dan Mereka

Saat makan siang di kantin kampus, diam-diam saya memperhatikan sembilan orang bule yang tampaknya lagi asyik tertawa bahagia. Saat kuperhatikan satu persatu, tak seorangpun diantaranya teman kelasku atau mereka yang kukenal dalam berbagai kesempatan. Tapi saya tetap terus menikmati menu hidangan siang hari itu.

Tepatnya topik apa yang mereka lagi bahas, hal itu diluar kuasaku. Hanya saja kepada siapa fokus mereka tertuju, inilah yang secara pribadi yang membuatku juga tertarik mengalihkan perhatianku dari mereka. Ada ‘pasangan’ yang ternyata juga sedang ‘asyik’ duduk bersama sekitar tiga meter disebelah kiriku. Dugaanku kuat tanpa harus ada bukti kalau yang mereka perbincangkan itu adalah dua pasangan tersebut.

Tak ada yang lebih menyita perhatianku dan perhatian mereka selain psysical appearance. Barangkali gampangnya bisa digambarkan tinggi cowoknya sekitar 199+ cm. Sementara ceweknya sekitar 160 cm. Sekali lagi itu hanya prediksiku. Dari postur tubuh, mereka memang jauh dari standar ideal menurut kesepakatan sosial. Cowoknya tinggi banget dan tinggi pasangannya tidak mengimbanginya.

Usut-punya usut, tidak hanya kami yang menilai hal itu sebagai sebuah keganjilan. Tiga orang yang lagi asyik ngopi dekat pintu utama cafe, saya dengar mereka terheran saat pasangan itu berlalu didepannya. ‘Wow’, kata seru mereka yang tanpa sengaja tertangkap pendengaranku. ‘Hidup ideal itu memang sebuah kebutuhan’. Tiba-tiba kalimat itu yang datang dibenakku. Tidak hanya bagi pribadi yang menjalani, akan tetapi juga bagi sekelompok orang, yang menurut saya, dapat memenuhi kebutuhan bagaimana orang lain, orang yang melihat atau menilai, menginginkan bagaimana ‘semestinya’ kita hidup atau berprilaku.

Dalam budaya Jawa istilah ‘sawang sinawang’ sangat populer. Istilah tersebut bisa bermakna bagaimana kita menilai diri kita dan mengukur hidup orang lain dalam satu sudut pandang. Sementara ‘nyamanna bada neng oreng’ juga frase yang mudah didengar dalam interaksi keseharian masyarakat Madura. Secara sederhana kedua frase tersebut bisa diterjemahkan; kita melihat orang lain hidupnya enak sementara orang yang kita nilai justr yakin hidup kitalah yang sebenar-benarnya enak. Sebagai sebuah ilustrasi sederhana; seorang petani menganggap profesi ‘pedagang’ sebuah profesi yang ‘nyaman’; banyak duit dan gampang mendapatkannya karena dirinya merasa harus pontang panting mencangkul sawah untuk memenuhi kebutuhannya. Disatu sisi, si pedagang sendiri mengeluh dan ingin rasanya menjalani hidup seperti seorang petani, yang dalam keyakinannya, hidupnya tentram; tanpa harus terkekang dengan waktu. Dengan kata lain, kehidupan petani dalam kacamata seorang pedagang adalah kehidupan yang seutuhnya, begitupun sebaliknya.

Satu misal diatas bukanlah satu-satunya contoh dalam bagaimana orang perorang menilai orang lain. Ujung-ujung dari prilaku diatas adalah sebuah usaha bagaimana kita bisa menjadi mereka dan hal itu selalu diluar kesadaran. Menurut hemat saya, terdapat polarisasi dua sudut pandang yang semakin menjauhkan dari titik temu dari contoh diatas.

Pada prinsipnya, saya menilai, barangkali pembaca juga, bahwa terdapat ketidakstabilan atau relativitas dalam kehidupan sosial. Dengan kata lain, sebuah ukuran/standar tertentu bisa jadi berlaku bagi seseorang, kalangan, kelompok sosial, dan dalam skala nasional sebuah negara tertentu, akan tetapi kriteria tersebut tidak berlaku bagi orang, kalangan, kelompok sosial, dan negara lain. Itu sebabnya, mereka, secara pribadi, memiliki model atau bentuk tersendiri untuk kehidupannya.

Kembali pada kasus pasangan ‘ganjil’ pada paragraf pertama. Bagaimana pribadi-pribadi diluar mereka berdua betul-betul mengerti tentang keputusan jalinan itu? Pernahkah pribadi-pribadi diluar mereka memposisikan diri mereka selayaknya mereka sendiri yang menjalani dan mencoba bertanya-tanya bagaimana kira-kira orang lain menilai dan menginginkan hubungan itu?

Hal ini rupanya membuatku teringat mata kuliah ‘Cross-cultural Pragmatics’ yang, dari judul topiknya sendiri mudah terka kalau, pokok pembahasannya fokus di isu-isu komunikasi lintas budaya. Secara teori, perbedaan budaya dan cara berkomunikasi antar individu dan kelompok tertentu akan berbeda dari individu dan kelompok tertentu yang lain sudah bisa dipahami. Hanya saja perlu digaris bawahi, sejarah pembentukan dir (the story of the self) mulai dari keluarga hingga lingkungan sekitar juga memberikan sumbangsih berarti bagaimana mereka membangun prinsip-prinsip nilai dan keyakinan tentang hal yang ‘salah’ dan ‘benar’ juga berdasarkan kesepakatan dari mana mereka berasal. Selanjutnya, nilai-nilai dan prinsip-prinsip tersebut juga akan tercermin dari prilaku dan kepribadian mereka.

Secara umum, kuatnya internalisasi prinsip tersebut pada tiap individu akan tetap terbawa sekalipun mereka tinggal dalam lingukangan yang baru. Kecendrungannya, tingkah dan prilakunya akan didasarkan pada nilai-nilai dan kepercayaan yang sudah terlanjur kuat terbangun dan tertanam dalam karakternya, termasuk pendekatan yang akan ditempuh dalam menyikapi masalah. Tendensi pola pikir dan prilaku yang cendrung membangun sekat-sekat dalam keseharian seperti itu lebih terkenal dengan istilah ‘cultural filter’ dalam kajian ilmu budaya.

Dengan begitu, frase ‘put in one’s else shoes’ jadi begitu dalam maknanya dalam konteks ini. Menurut saya, pemahaman yang lebih mendalam akan kalimat tersebut bisa mengawali bagaimana kita menilai dan mengukur kembali sebuah standar yang sudah menjadi kesepakatan; tentang diri dan orang lain beserta orang lain dalam kacamata diri (kita). Atau jika tidak, yang terjadi bisa jadi seperti dalam potongan lirik lagunya Blackmore’s Night (lupa judulnya):

..are you like the others, so quick to judge..?

About Halili

Indonesian student of Master of Language Studies at Flinders University, South Australia.
This entry was posted in Culture. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s