Cikal Bakal Bahasa Manusia

Menelisik muara bahasa berarti melakukan perjalanan sejarah manusia dalam batas waktu sepanjang yang bisa dituliskannya. Teori-teori tengtangnyapun beraneka ragam. Sumber-sumber tersebut dapat merujuk bagaimana bahasa tercipta dan mulai berkembang dari berbagai aspek pula. Sebagai salah satu contoh persoalan benih bahasa misalnya, tercetus pertanyaan apa kata pertama yang manusia ucapkan pada waktu itu, pentingnya teori evolusi Darwin untuk sumbangan pandangan terhadap evolusi kemanusiaan, hingga teori-teori sosial yang tidak dapat dielakkan dimana bahasa telah memainkan peranan penting didalamnya.

Tulisan ini akan mengulas teori-teori sejarah linguistiks dalam ranahnya. Terdapat sekian teori yang bisa kita temukan seperti the bow-bow theory, the ding-dong theory, the la-la theory. Hanya saja, tulisan ini akan mengulas dua teori “ekstrim” dari hipotesis dasar sifat bahasa yang ditakdirkan (given) sampai pengembang-biakan (re-production). Teori-teori yang dimaksud disini meliputi: teori yang bermuara pada ketuhanan dan interaksi sosial. Dari berbagai penelitian yang ada, temuan empiris George (2012) akan diulas dalam tulisan ini dan pada waktu yang bersamaan akan menganalisis teori-teori sejarah linguistiks yang relevan lainnya.

1. Sumber Ketuhanan (The Divine Source)

George (2012, p. 2) begitu percaya bahwa terdapat unsur interfensi Tuhan didalamnya. Dia berasumsi, seperti dalam tradisi Bibel, bahwa Tuhan telah menciptakan makhluk yang bernama “Adam”. Lebih dari sekedar itu, kepercayaan yang digariskan oleh Bibel juga menunjukkan adanya peristiwa ajaib (miraculous event) yang lain: terjadinya fragmentasi bahasa tak terelakkan anak cucu Nuh setelah peristiwa menggemparkan itu: banjir bandang (Taylor, 1997, p. 76). Penamaan atas makhluk manusia inilah yang dijadikan rujukan lahirnya penamaan-penamaan atas segala sesuatu: hewan, tumbuhan, manusia dan/atau makhluk mati (unliving things).  Dalam kajian ilmiahnya, dia telah mendukung temuan seorang penulis Yunani, Herodotus, kata pertama bahasa manusia: bekos.

Kesimpulan uji ilmiah ini dilakukan pada dua bayi baru lahir, lebih dari 2.500 tahun yang lalu. Berdasarkan analisisnya, dua bayi tersebut yang tidak memiliki akses menjalin interaksi dengan manusia lainnya, kecuali kambing gembalaan, telah mengejutkan risetnya. Kedua bayi tersebut secara spontan mengucapkan kata bekos. Usut punya usut, kata tersebut merupakan bahasa Phrygian yang berarti roti/bread. Bahasa Phrygian ini, bahasa klasik yang menjadi alat komunikasi sehari-hari di Turkey.

Mengingat perdebatan bahasa tertua di dunia, temuan Herodotus ini tidak menjadi satu-satunya jawaban atas perselisihan dalam kajian linguistik komparatif. King James, Skotlandia, juga melakukan objek eksperimen dan sample yang sama. Penelitiannya mengkonfirmasi bahwa anak-anak, dengan variable dependent yang sama, terisolasi dari akses interaksi sosial, mampu berbahasa Hebrew. Hanya saja proposal ini tidak menyertakan bukti (evidence) setidaknya contoh kata sebagaimana yang dipaparkan oleh Herodotus.

2.  Sumber Interaksi sosial (The Social Interaction Source)

Evolusi spesies kemanusiaan terus bergulir, pun bahasa yang mereka percakapkan. Teori interaksi sosial ini memberikan penanda tentang sejarah bahasa yang tak lain dan tak bukan didasarkan pada kebutuhan manusia yang paling mendasar: interaksi sosial. Meski sampai saat ini perdebatan evolusi bahasa manusia masih menjadi salah satu sumber perdebatan dalam kajian sejarah bahasa, karena keterputusan dengan dengan data empiris misalnya, namun begitu, kita perlu membatasi kajian tersebut untuk mencapai suatu kesepakatan.

Batas yang dimaksudkan disini adalah asumsi dasar tentang makhluk homosapien. Pada masanya, bahasa mereka meliputi bahasa bunyi sederhana yang meliputi suara dengkur (grunt), dengungan (hum) dan erangan atau rintihan (groan). Prinsip-prinsip bunyi tersebut menjadi konsep bersama dalam komunitas dan menjadi penanda untuk kepentingan mereka dari serangan dari luar (komunitas) mereka. Kenyataan membuktikan bahwa dengan hidup berkelompok, ternyata komunitas tersebut lebih diuntungkan dari proteksi yang lebih kuat Yule, 2012, p. 3). Pada saat yang bersamaan, dari ungkapan-ungkapan sederhana seperti diatas, kebutuhan reproduksi bahasa dalam komunitas berkontribusi berarti untuk pencapaian sosial diantara mereka (shared-goals). Teori ini kemudian juga dikenal dengan teori yo-he-ho karena melibatkan suara yand didukung oleh aktivitas fisik manusia itu sendiri (Nordquist, 2012).

Dari tulisan ini sebenarnya masih terdapat teori-teori yang lain untuk diulas. Temuan di atas barangkali analisis dangkal untuk memulai melakukan analisis teori-teori asal muasal bahasa manusia yang juga, berdasarkan studi terdahulu, tidak bisa dipisahkan dan dilepaskan dari perkembangan bahasa binatang. Sehingga pada kesempatan dan barangkali ditemukan kajian yang lain yang dapat melengkapi kajian-kajian yang sudah ada. Jika tidak demikian, dikhawatirkan akan terlalu banyak penjelasan pada apa yang kita tidak banyak tahu.

Referensi:

Nordquist, R 2012. “Where does language come from?” Diliat pada Maret, 8, 2012 di (http://grammar.about.com/od/grammarfaq/a/Where-Does-Language-Come-From.htm).

Taylor, CV 1997. The origin of language, Cen Tech, Vol. 11, no. 1.

Yule, G 2012. “The study of language”. Cambridge University Press, Cambridge.

About Halili

Indonesian student of Master of Language Studies at Flinders University, South Australia.
This entry was posted in Linguistics. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s