Tiga mata rantai dalam lingkar (isu) kenaikan harga BBM

Membaca delapan headline harian Kompas hari ini, 31 Maret 2012, semakin memberi gambaran pergulatan dan geliat perekonomian Indonesia di kelasnya. Pergulatan yang paling mencolok kali ini adalah dikarenakan adanya “isu” kenaikan harga BBM. Saya mengggunakan kata “isu”, karena ternyata kenaikannyapun telah diputuskan ditunda.

Ada tiga headline yang secara langsung terkait dengan isu BBM. Ketiga judul headline tersebut adalah:

– Tindak lanjuti paripurna, Presiden gelar sidang kabinet
– Pemerintah menerima penundaan kenaikan harga BBM
– Harga BBM tak jadi naik, perketat belanja

Tanpa membaca secara teliti sekalipun, ketiga judul di atas menjelaskan situasi riil yang sedang dihadapi pihak pemerintah (terutama) terkait isu BBM. Pada headline ke-2, rapat paripurna soal UU soal perubahan-APBN 2012 telah merujuk pada rumusan baru pasal 7 ayat 6A, akhirnya pemerintah mempertimbangkan hasil rapat pariwurna DPR-RI. Penerimaan sikap ini akan ditindaklanjuti pada sidang kabinet yang akan dipimpin oleh presiden sendiri untuk mempelajari putusan rapat tersebut lebih mendalam.

Pokok penting dari ketiga headline di atas menurutku bukanlah pada permasalahan apakah BBM akan jadi naik, ditunda, atau kemungkinan terakhir, dan ini sangat sulit, harganya tetap stabil. Akan tetapi “keresahan” masyarakat yang jelas terasa sebagai dampak dari isu tersebut. Menariknya, ditengah-tengah memanasnya isu tersebut, ditengah-tengah masyarakat yang sedang “resah”, ada kabar yang berpotensi sebagai harapan yang bisa menepiskan potensi “keresahan” yang ada, yakni tiga judul headline berikut:

– Simak calon-calon sepeda motor baru untuk Indonesia
– Suzuki “recall” swift, Indonesia aman
– 11 model baru ramaikan pasar mobil Indonesia tahun ini

Jika menyimak ketiga judul tersebut, terdapat harapan didalamnya (menggunakan pendekatan ilmu Pragmatiks). Secara ekonomi, kalimat-kalimat tersebut barangkali ingin menyampaikan pesan tersurat bahwa daya beli masyarakat Indonesia masih tinggi. Buktinya, Indonesia masih menjadi pasar basah bagi distribusi seperti produksi mobil dan sepeda motor. Lalu dari kelas mana yang kiranya dapat meng-afford mobil sekelas Suzuki Swift dan Honda model Brio dan All New Civic tersebut? Tentunya kaum yang berduit.

Secara logika memang benar bahwa orang membeli dalam hal ini mobil atau sepeda motor juga telah memikirkan jangka panjangnya. Jangka panjang disini adalah pertanyaan seperti bagaimana mereka dapat mendukung kendaraan tersebut setelah terbelikan. Tentu mereka juga memikirkan “bahan bakar” sebagai penggeraknya. Sisi yang lain, produsen dan itu saya begitu yakin bahwa mereka tidak buta memilih Indonesia sebagai “jajahannya” (isitilah “jajah” begitu popular dari dasawarsa 1980-an – 1990-an akhir terutama di desa untuk menunjukkan aktivitas ekonomi kalangan bawah. Mereka berjualan menjajahkan jualannya misalnya kain atau baju ke daerah-daerah lain dan itu ditempuh umumnya dengan jalan kaki). Mereka kaya pengalaman dan didukung pengetahuan ekonomi, atmospher geopolitik yang memadai. Jika itu benar, rasa-rasanya dapat kita pahami bahwa efek (isu) kenaikan BBM tidak memberikan dampak yang serius.

Di kolom “Urban” pada koran harian yang sama, tertuliskan “Menikmati “sunset” sambil makan di Serai Wangi. Bagi yang belum tahu lokasi “foodcourt” ini di mana atau belum sempat mampir, tepatnya ada di jalan Rawa Buntu, Serpong. Pada bagian ini kita barangkali hanya sama-sama bisa “menyeruput” hidangan masakan dengan pemandangan matahari yang hendak tidur. Lagi-lagi inilah warna lain yang menawarkan “kesejukan” dan “kedamaian”dalam lingkaran isu kenaiakan harga BBM di negeri tercinta kita ini .

Argumentasi bahwa efek yang mendalam dari naiknya harga BBM adalah meningkatnya harga kebutuhan dasar pokok sehari-hari. Cabe, bayam, mentimun, bawang merah, bawang putih, ikan, beras (apalagi?) juga gag mau kalah. Bahkan terkadang, harga BBMnya aja belum tentu naek, harga tersebut rebutan. Efek samping inilah yang barangkali yang betul-betul memusingkan dompet terutama kalangan kaum proletar (working class). Tapi rasanya kenyataan ini tidak perlu terlalu berlebihan perih ditangisi, karena ternyata, berdasar laporan harian “Tempo”, tingkat konsumerisme di Indonesia mencapai puncak (?) yang juga berdasarkan fakta di lapangan, kaum kelas menengah-keatas di Indonesia menunjukkan peningkatan yang berarti dibanding Indonesia, Srilangka dan negara ASIA lainnya.

Lalu pertanyaanku, siapa sebenarnya yang “gelisah” akan fenomena (isu) kenaikan BBM ini? Saya perhatikan, terutama tetangga-tetanggaku di desa (dan barangkali di daerah-daerah lainnya) rupa-rupanya mereka masih menjalani rutinitasnya sehari-hari (umumnya bertani) tanpa banyak gugat mengandalkan pemerintah dan ini kenyataan bahwa sampai saat ini belum pernah ada yang kelaparan dikarenakannya. Atau entah karena mereka merasa tidak punya kekuasaan dan kekuatan, bisu dalam teriakan?

About Halili

Indonesian student of Master of Language Studies at Flinders University, South Australia.
This entry was posted in Tanggapan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s