The Big Issue dan Konteks Ke-Indonesia-an

Terjemahan harfiah dari “The Big Issue” bisa berupa “permasalahan besar” dalam bahasa Indonesia. Bentuk masalahnya bisa beragam. Contoh nyatanya bisa berupa permasalahan pribadi, ekonomi, pendidikan, budaya dan politik. Meski begitu perlu ada penggarisbawahan jika besar kecilnya masalah sangat bergantung pada kadar pola pengukuran tiap individu. Tentu saja kadar tersebut bisa berlaku bagi orang tertentu, akan tetapi tidak dapat diimplementasikan oleh atau pada lain orang.

Tulisan ini tidak bermaksud sekedar memaparkan terjemahan frase tersebut dari bahasa Inggris kedalam bahasa Indonesia. Akan tetapi sebagai sebuah usaha untuk menjembatani terjemahan harfiah beserta dimensinya yang akan diurai secara ringkas. Dengan kata lain, mengetahui lebih dalam apa yang terjadi dibalik kata-kata tersebut akan dipaparkan. Seterusnya, tulisan ini juga akan membahas keterkaitannya dalam konteks ke-indonesia-an.

Sebenarnya frase tersebut merupakan nama sebuah majalah di Inggris yang mulai terbit pada tahun 1991-an. Penerbitan majalah tersebut terkait dengan permasalahan sosial yang berkembang terutama di negara tersebut, yaitu isu tuna wisma (homeless). Distributor utama majalah tersebut sengaja direkrut dari kalangan mereka yang bermasalah dengan tempat tinggal. Dengan kata lain, penerbitan majalah ini bertujuan untuk memberikan pekerjaan kepada mereka yang dimaksud untuk dapat menghasilkan uang dari penjualannya. Meski pelaksanaannya sering dilakukan terutama di jalan-jalan, akan tetapi inisiatif tersebut dimaksudkan supaya mereka lebih mandiri dan terhindar dari “minta-minta” (begging).

Penjualan majalah tersebut, setahu saya di Adelaide, South Australia, bisa kita temui di kampus-kampus atau di tempat layanan umum seperti di blok Rundle Mall. Mereka menjualnya tanpa ada stand khusus. Mereka cukup menjajakannya sambil berdiri dengan majalah dipampang ditangannya.

Apa keterkaitan antara “The Big Issue” di Australia dan para tuna wisma dalam konteks ke-indonesia-an?. Tentu diperlukan jawaban yang comprehensive untuk mendiskusikan masalah ini. Hanya saja, dari perspektif pribadi, ide tersebut merupakan gagasan yang cemerlang bagaimana menaikkan tingkat ekonomi masyarakat kelas bawah secara umum.

Seperti diketahui bersama jika dalam beberapa tahun ini negara Indonesia menggulirkan program BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang nyaman bagi penduduknya. Strategi tersebut akan tetapi tidak berlangsung secara mulus. Program tersebut menuai banyak kritik sebagaimana diberitakan banyak media. Salah satu kekurangan yang disinyalir dari program tersebut adalah bahwa program tersebut tidak dapat menyelesaikan masalah (ekonomi) dalam jangka panjang. Karena sebenarnya program tersebut tidak berusaha menyelesaikan isu paling mengakar dari permasalahan ekonomi yang ada: yaitu kesenjangan antara pendapatan dan pengeluaran.

Mengidentifikasi akar masalah jadi begitu penting. Dengan begitu, kita, terutama para pembuat kebijakan, lalu dapat mencari penyelesaian yang lebih tepat. Jika kita ingat pepatah “lebih baik memberikan pancing atau kail dari pada ikannya”, barangkali pepatah ini dapat memberi sedikit gambaran bagaimana kita sebaiknya mencari jalan keluar dari kesenjangan ekonomi tersebut.

Contoh bagaimana majalah “The Big Issu” ini diterbitkan, prioritas utama distributornya, menurutku, gagasan inspiratif untuk mengurangi ketergantungan dan menciptakan masyarakat yang lebih mandiri. Tentu saja pekerjaan ini butuh kerjasama dan kekompakan dari berbagai instansi, untuk menjadi Indonesia yang lebih “merdeka”.

About Halili

Indonesian student of Master of Language Studies at Flinders University, South Australia.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s